Ahimsa dan Keseimbangan Ekosistem
Ahimsa harus diapresiasi menurut prinsip-prinsip dharma sebagaimana diajarkan dalam sastra Weda, menurut petunjuk orang suci dan sesuai pengalaman yang dipraktekkan oleh para sadhu. Dengan kata lain, ahimsa tidak harus diapresiasi menurut selera kita masing-masing, apalagi dipahami lewat cara yang keliru dengan menganggap bahwa doktrin ahimsa itu tidak ada hubungannya dengan siklus dan ekosistem alam.
Dalam mata rantai kehidupan atau sering disederhanakan dengan rantai makanan, nyamuk dimakan katak, katak dan tikus dimakan ular, ular dimakan burung elang, dan begitu seterusnya. Mata rantai kehidupan ini dimaksudkan untuk menjaga ekosistem agar tetap seimbang. Siklus ini tidak merupakan pelanggaran atas prinsip-prinsip ahimsa dharma, sebab ia berjalan sesuai dengan hukum alam. Tetapi kalau manusia makan katak, atau makan tikus, dan bahkan makan ular, maka tindakan itu merupakan pelanggaran berat atas doktrin ahimsa dharma.
Keseimbangan ekosistem terganggu karena manusia yang melanggar prinsip-prinsip ahimsa. Dan, dewasa ini semakin banyak manusia mengkonsumsi katak, ular atau tikus, maka konsekwensinya DB semakin merajalela. Dengan kata lain, prinsip-prinsip ahimsa itu implikasinya sangat luas, tidak hanya menjaga kesehatan dan meningkatkan vitalitas kehidupan serta pencerahan spiritual, juga menjaga keseimbangan ekosistem alam.
Munculnya doktrin bahwa ahimsa dharma bersifat kaku dan hanya bisa diberlakukan bagi manusia saja, tentu tak benar. Ajaran ahimsa bersifat universal dan melampau pengertian-pengertian sektarian. Justru karena sebagian besar manusia yang hidup dewasa ini tidak mengikuti prinsip-prinsip ahimsa, menyebabkan terjadinya ketidak-seimbangan alam seperti pemanasan global dan munculnya berbagai penyakit yang mengerikan.
Penyakit-penyakit yang mengerikan itu muncul simultan dengan mulainya manusia mengembangkan kebiasaan-kebiasaaan makan makanan yang aneh, seperti daging katak, tikus, dan ular. Terutama campur tangan manusia yang terlalu jauh dalam memerkosa alam, juga menyebabkan munculnya banyak penyakit aneh dan mengerikan. Flu burung salah satu contohnya.
Sesuai aturan hukum alam, binatang seperti ayam secara kodrati sebagai makhluk pemakan biji-bijian. Tapi, dewasa ini, ayam-ayam dipaksa menjadi kanibal dengan memakan makanan konsentrat yang terbuat dari olahan daging sapi sisa (jeroan dan daging buruk yang tidak bisa dimakan manusia). Konsentrat itu diproduksi oleh industri makanan ternak di Amerika dan disebarkan ke seluruh dunia. Inilah sebuah resiko dari suatu produksi massal.
Idealnya, manusia kembali pada alam dan menyerahkan pelestarian bumi ini kepada seleksi alam. Memang alam itu akan cenderung berkembang menjadi tidak teratur, apabila alam dibiarkan berkembang secara alami tanpa pengaruh gaya dari luar, seperti campur tangan manusia. Namun, menurut teori Entropi, justru dalam ketidak-teraturan alam itu, terjadi keharmonisan dan keseimbangan ekosistem. Hutan yang dibiarkan berkembang sebagaimana adanya tanpa campur tangan manusia, akan berkembang tidak teratur karena berbagai jenis tanaman akan tumbuh dengan sendirinya secara alami. Hutan yang tidak teratur ini justru lebih seimbang secara ekosistem dibandingkan dengan hutan kelapa sawit yang monokultur.
Konsep "seleksi alam" ini sekaligus membantah bagian pernyataan penanya yang mengatakan bahwa manusia bisa menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk melakukan pembunuhan demi melestarikan kehidupan atau demi menjaga agar makhluk yang dibunuh itu populasinya terkendali. Pendapat ini bisa digambarkan dalam ilustrasi sederhana berikut ini. Seumpama saya ingin populasi ayam, kambing atau sapi, terkendali, maka saya harus memakan daging ayam, kambing atau daging sapi, agar populasinya terkendali atau tidak membludak. Dengan berat hati, saya harus katakan, gagasan ini sangat berbahaya. Sebab, jika saya ingin membatasi populasi manusia, apakah saya harus makan daging manusia?
Ikan-ikan di laut tidak pernah menumpuk memenuhi permukaan laut, bukan karena disebabkan oleh manusia yang mengkonsumsinya, melainkan lebih disebabkan oleh seleksi alam. Ikan-ikan kecil dimakan oleh ikan yang lebih besar, dan ikan lebih besar dimakan lagi oleh ikan yang lebih besar lagi. Demikianlah keteraturan hukum alam itu berjalan dari dulu hingga sekarang tanpa menimbulkan dampak negatif kepada keseimbangan ekosistem. Namun, belakangan manusia menangkap ikan-ikan kecil dalam jumlah yang tidak terbatas sehingga ikan-ikan besar kekurangan makanan, dan sebagai akibatnya emosi kemarahan yang dipantulkan ikan-ikan besar yang kelaparan tersebut mempengaruhi pemanasan global. Laporan penelitian ini pernah disampaikan Wakil Presiden Amerika Al-Gore menjelang seminar Internasional Pemanasan Global di Bali, beberapa waktu yang lalu.
Ahimsa artinya tidak melakukan pembunuhan, seperti kata Bhagawan Katyayana dalam Sarasamuccaya: ahimsa ngarania tan pamati-mati. Implikasi dari pengertian ini sangat luas dan harus dilihat kasus per kasus. Dalam kasus Mahatma Gandhi dan kambing yang dikutip di atas, ini harus dikecualikan. Sama dengan ayam-ayam yang terinveksi flu burung, harus dimuskahkan. Tindakan ini sama dengan mengambil kanker dari dalam tubuh seseorang untuk menyelamatkan jiwa orang tersebut. Jadi, memusnahkan kambing dan ayam yang terinveksi penyakit, dimaksudkan untuk menyelamatkan kehidupan yang lebih luas. Tindakan ini dikecualikan dari himsa karma karena bukan merupakan bentuk kekerasan.
Yang tidak dikecualikan dari himsa karma bila seseorang membunuh semata-mata demi kepuasan lidah dan isi perutnya, apalagi itu dilakukan secara berencana dan penuh kesadaran. Jadi kalau seseorang membunuh binatang dengan berencana dan sadar, lalu memasak dan selanjutnya memakannya, itu melanggar prinsip-prinsip ahimsa.
Mengapa demikian? Manusia bisa menjadi herbivora dan menjadi konsumen pada tingkat pertama dalam siklus mata rantai kehidupan. Artinya, manusia bisa hidup tanpa harus memakan daging, ikan, dan telor. Dalam memahami wawasan ini kita harus mengerti apa yang dimaksud mata rantai kehidupan itu. Landasan utama rantai pemangsa adalah tumbuhan hijau sebagai produsen. Rantai pemangsa dimulai dari hewan yang bersifat herbivora sebagai konsumen ke-1, dilanjutkan hewan karnivora yang memangsa herbivora sebagai konsumen ke-2 dan berakhir pada hewan pemangsa karnivora maupun herbivora sebagai konsumen ke-3.
Sebagai penjelasan tambahan, bisa dikemukakan di sini bahwa tumbuhan hijau sebagai produsen pertama menerima energi dari matahari. Selanjutnya hewan herbivora menerima energi dari tumbuhan hijau, dan siklus berikutnya, hewan karnivora memangsa hewan herbivora, demikian seterusnya. Jadi, sebenarnya makhluk hidup memerlukan energi untuk mempertahankan eksistensi kehidupannya. Hanya saja, makluk hidup menerima energi dari sumbernya yaitu matahari melalui cara yang berbeda-beda. Para ilmuwan ekologi mengenal tiga macam rantai pokok, yaitu rantai pemangsa, rantai parasit, dan rantai saprofit.
Masalahnya kini, dimanakah posisi manusia? Pendapat pertama, tempatkan manusia sebagai omnivora atau pemakan segala. Dalam arti ini manusia bisa menjadi konsumen pertama, kedua, atau ketiga. Sebagai konsumen pertama manusia hanya menjadi pemakan tumbuhan hijau, sedangkan sebagai konsumen kedua dan ketiga, manusia boleh makan hewan herbivora dan hewan karnivora. Pendapat kedua, memasukkan manusia ke dalam kelompok herbivora atau pemakan tumbuhan hijau. Artinya manusia hanya sebagai konsumen pertama yaitu hanya memakan tumbuhan hijau. Namun. dalam kenyataannya, manusia adalah mahluk yang sangat istimewa; ia bisa menjadi hanya pemakan tumbuhan hijau, pemakan segala (hewan herbivora dan karnivora), dan bahkan yang lebih hebat lagi, manusia bisa menjadi "tidak menjadi pemakan segala" karena ia bisa menyerap energi matahari secara langsung seperti pengalaman para resi yang melakukan pertapaan di atas salju pegunungan Himalaya.
Dalam argumentasi dari pendapat pertama di atas yang menempatkan manusia sebagai makhluk omnivora, menegasikan bahwa manusia menjadi pemakan segala semata-mata karena dilihat secara realitas manusia menjadi pemakan segala dalam realitas kehidupan sosial di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan argumentasi dari pendapat kedua yang menempatkan manusia sebagai makhluk herbivora, menegasikan bahwa secara biologis manusia bukanlah pemakan segala, melainkan hanya pemakan daun hijau. Misalnya, struktur gigi manusia yang tidak mempunyai taring seperti dalam binatang karnivora, jelas tidak dimaksudkan untuk memangsa binatang. Daging cocok untuk binatang yang memiliki perut pendek sehingga tidak mengalami pembusukan lebih lama di dalam perutnya. Secara biologis, perut manusia 20 kali lebih panjang dari perut binatang, sehingga makanan daging tidak cocok untuk manusia. Secara alami manusia juga bukan carnivora. Jika manusia menemukan binatang, ia akan menyeleksi dagingnya, memasaknya dan menyajikannya, lalu memakannya. Berbeda dengan binatang carnivora seperti harimau yang secara alami akan memangsa binatang buruannya sampai tuntas.
Silang pendapat, apakah manusia tergolong kelompok omnivora atau sebaliknya herbivora, sudah berlangsung lama dalam gelanggang kehidupan bersama di tengah-tengah masyarakat kita. Namun, sampai hari ini, faktanya manusia memang bisa bertindak baik sebagai omnivora maupun herbivora. Semestinya kita tetap membiarkan silang pendapat itu tergelar sebagaimana argumentasi yang dikemukakan oleh masing-masing pihak. Ini semata-mata untuk proses pembelajaran dan memberikan pilihan-pilihan yang bebas kepada setiap individu dalam menentukan sikapnya.
Dengan kata lain, tidak terlalu penting mencari kesimpulan yang benar dari silang pendapat di atas, apakah manusia itu makhluk omnivora atau herbivora. Yang lebih penting justru mencari jawab atas fakta sejarah bahwa dalam satu babak sejarah kehidupan manusia, doktrin ahimsa justru muncul ke permukaan sebagai model ideal kehidupan manusia yang mewakili tingginya peradaban spiritual. Santi Parwa, bagian dari Mahabharata, menyerukan demikian: "ahimsa adalah dharma yang tertinggi' (ahimsa paramodharma).
Munculnya doktrin ahimsa dharma dalam evolusi pemikiran Hindu (Mahabharata) jelas berangkat dari penderitaan-penderitaan yang dialami manusia karena melanggar ketentuan-ketentuan alam sebagaimana diamanatkan dalam kitab suci Weda. Akibatnya, manusia berusaha menyelaraskan hidupnya dengan alam untuk menghindari penderitaan-penderitaan yang menimpanya. Praktek ahimsa dharma selaras dengan hukum-hukum alam.
Sains modern, dengan logikanya, mencoba mengungkapkan rahasia-rahasia kitab suci yang bersifat transcendental. Pengelompokan manusia kedalam jenis makhluk herbivora dan bukan omnivora adalah berdasarkan penemuan sains modern. Dalam arti ini, vegetarianisme, yang merupakan bentuk idial penerapan ahimsa-dharma dan sesuai dengan martabat manusia sebagai makhluk herbivora, telah mendapatkan legitimasi baik secara spiritual maupun sains modern.
Spiritual dan Sains bisa paralel dan gayut, seperti dikatakan Michael Talbot (1981): "Mistik telah mengetahui ribuan tahun yang lalu ketika sains baru mengetahuinya sekarang". Misalnya, pendapat para resi dalam Upanisad yang mengatakan bahwa matahari adalah sumber energi, sepenuhnya dibenarkan oleh sains modern dewasa ini. Jadi bagaimana mungkin kita mengklaim, seperti klaim dari penanya di atas, bahwa doktrin agama Hindu yang bersumber dari kitab suci Weda, khususnya doktrin ahimsa, tidak berhubungan dengan rta atau hukum alam semesta.
Jadi, kita tidak boleh mengabaikan petunjuk Manawa Dharma Sastra berikut ini, yang menyatakan ada tujuh orang yang terlibat dalam kegiatan berdosa akibat membunuh: (1) orang yang menyuruh membunuh; (2) orang yang melihat pembunuhan itu tetapi tidak memprotesnya; (3) orang yang membunuh; (4) orang yang menjual daging; (5) orang yang memasak daging; (6) orang yang menyajikan daging yang sudah dimasak; dan (7) orang yang memakannya.
Brahma Vaivarta Pur?na, bagian Krsna-Janma-Kana 185. 180, mendukung pendapat Resi Manu di tadi: a?vamedham gav?lambham, sanny?sam pala-paitrkam, devarena sutotpattim, kalau paƱca vivarjayet. Artinya, "ada lima kegiatan yang dilarang pada Zaman Kali ini, yaitu: melakukan korban kuda (a?vamedha); mempersembahkan daging sapi dalam upacara (gav?lambha); menerima sanyasi; mempersembahkan daging kepada leluhur; mendapatkan anak melalui istri saudara kandung yang lebih tua".
Memperhatikan uraian-uraian panjang tadi, khususnya siklus mata rantai kehidupan, sebenarnya manusia tidak memerlukan daging, ikan dan telor dalam segala keadaan. Artinya, bagi manusia, makan daging, ikan dan telor, bukan merupakan tuntutan hukum alam, melainkan masalah selera dan pilihan hidup.
http://saradbali.com/edisi99/susila.htm
Selasa, 14 Juli 2009
Manusia : Omnivora atau Herbivora?
Diposting oleh eka armadi sstp di 00.43
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar